Teknik sirkumsisi pada bayi dan anak-anak, umumnya dilakukan melalui prosedur anastesi lokal, berbeda dengan dewasa atau anak berkebutuhan khusus, khitan dapat dilakukan melalui anatesi umum. Teknik sirkumsisi yang popular di masyarakat terutama anak-anak, saat ini adalah klem termasuk didalamnya penggunaan Gomco clamp yang banyak dilakukan di Amerika Serikat.

Gomco clamp merupakan salah satu teknik sirkumsisi yang sudah ada dari jaman dahulu tepatnya tahun 1935, di inisiasi oleh dokter obstetric dan ginekologi bernama Hiram S Yellen, dan Aaron Goldstein. Istilah Gomco merupakan kepanjangan dari Goldstein Manufacturing Company, dari kota New-york.

Sebelum di ketemukannya Gomco, komplikasi tindakan sirkumsisi sangat tinggi mulai dari perdarahan serta infeksi. Gomco clamp hadir pada saat yang tepat, dengan desain instrumen yang kecil, kuat serta dapat digunakan tanpa bantuan asisten. Menjadikan gomco clamp pada saat itu menjadi instrument sirkumsisi yang laku dipasaran. “Saya memanfaatkan teknik jadul ini (Gomco), dengan kombinasi penggunaan lem. Munculah istilah Go-Lem,” jelas dr. Jaka Suganda, dalam gelaran MUNAS Asosiasi Dokter Khitan Indonesia (ASDOKI) 5-6 Mei 2018.

Lebih lanjut dr. Jaka menjelaskan, inti dari semua teknik sirkumsisi ada 3, yaitu memotong, hemostasis, dan merekatkan luka. Sebelum tindakan sirkumsisi dilakukan, bayi atau anak dilakukan pemeriksaan kondisi penisnya. Langkah selanjutnya adalah melakukan prosedur anastesi, tindakan aseptis, dan aplikasi gomco dengan sebelumnya melakukan pengukuran penis. “Saya biasanya menjepitkan Gomco selama 5 menit untuk hasil yang maksimal. Baru setelah itu dilakukan pemotongan menggunakan bisturi, dilanjutkan pelepasan gomco clamp,” jelas dr. Jaka.

Menurut dr. Jaka, sesungguhnya pasca gomco dilepas, luka sirkumsisi juga sudah lengket. “Lem disini fungsinya memperkuat luka potong,” tambahnya. Lem yang dimaksud (wound closure) mengandung butyl dan octyl sianoakrilat, sehingga memiliki keunggulan cepat membantu proses penutupan luka (10 detik) namun tetap fleksibel. Keunggulan lain dari Lem juga mampu mencegah masuknya bakteri atau kuman kedalam luka sehingga mencegah terjadinya infeksi. Lem juga tidak menimbulkan rasa sakit saat menempel ke luka, daya rekat lem juga sangat kuat setara dengan kekuatan benang ukuran 0,4.

Penggunaan dressing diperlukan pasca sirkumsisi menggunakan metode Go-lem. Dressing yang digunakan dapat berupa alginate yang diperkuat lagi menggunakan elastic bandage. Teknik Go-lem ini baik dilakukan pada usia balita atau anak-anak.


Cari Artikel

ZSR Certified Trainer

Like Us

Facebook By Weblizar Powered By Weblizar
WhatsApp Konsultasi dengan Dokter